Pernahkah anda merasa bahwa anda sudah cukup hebat? Bahwa anda memiliki pengetahuan yang cukup banyak? Atau anda merasa sudah cukup mampu menghadapi segala problema hidup ini karena anda cukup pandai dan berpengalaman? Kalau anda menjawab pernah, maka saya akan mengajak anda yang beragama Islam untuk beristighfar. Mohon ampun kepada Allah. Karena perasaan sudah hebat itu, adalah tanda-tanda yang menjurus kepada ketakaburan... Padahal, ternyata kita ini tidaklah punya kuasa apa-apa. Dalam hidup ini, sehebat apapun kita, sebanyak apapun teori keilmuan yang kita telah kuasai, ternyata itu semua tidak sebanding dengan kuasa Allah.
Tolong anda jangan mengira saya mendadak jadi ustadzah. Tolong juga jangan mengira saya sedang berceramah atau berkhotbah. Tidak. Saya jelas-jelas bukan orang yang punya cukup ilmu agama seperti seorang ustadzah. Saya hanya ingin berbagi. Berbagi pengalaman hidup yang mungkin bagi anda tidak terlalu berharga, tapi bagi saya, sungguh merupakan sesuatu yang sangat berarti. Sangat menyentuh.
Semua masih ada kaitannya dengan bidadari kecil saya, Shafa.
Shafa yang kakinya patah 3 minggu yang lalu.
Selama 3 minggu ini, dia telah melalui hari-hari digipsnya dengan tabah. Sungguh, saya tidak menyangka bahwa dia mampu setabah itu. Saya bahkan lebih sering down melihat keadaannya, tapi dia justru mengajari saya untuk menerima dan menjalani kenyataan. Bukan kah the life must go on? Meski di tempat tidur, Shafa selalu mengajari saya untuk optimis menghadapi masa depan.
Sempat memang beberapa hari pertama psikisnya agak tegang. Dia takut kakinya tidak akan sembuh lagi, dia takut tidak bisa berenang dan sekolah lagi, dan dia sangat khawatir akan hal itu. Tapi ternyata dia mampu bangkit dari keterpurukannya. Apalagi ketika setiap kawan yang menjenguk selalu memberinya semangat.
"Shafa pasti cepat sembuh, ya bu... Shafa mau makan dan minum susu yang banyak, biar cepat sembuh, ya bu..." Saya justru jadi optimis melihat semangat di matanya. Dialah yang sudah menguatkan saya.
Satu hal lagi yang membesarkan hati saya adalah kata-kata dokter.
"Ini tidak apa-apa, bu... dia masih sangat kecil. Kesempatan tulangnya menyambung kembali jauh lebih besar. Tidak perlu di pen. Saya pasak dari luar, lalu saya gips. Patahannya akan menyambung sendiri dalam 3 sampai 6 bulan...." terngiang kata-kata sang dokter 3 minggu yang lalu.
Saya, seorang awam di bidang kedokteran tentu percaya sepenuhnya. Kenapa tidak? Bukankah dia seorang dokter spesialis? Bukankah dia sudah sekolah sangat lama untuk mempelajari itu semua?
Dua minggu yang lalu kami kontrol padanya. Kata-kata penuh optimisme telah membuat hati saya berbunga-bunga. ‘Seminggu lagi, kita rontgent, ya... setelah itu, gipsnya boleh dipotong dari paha sampai lutut. Tapi dari lutut sampai jempol, tetap masih harus digips. Shafa jadi mulai bisa menekuk kakinya, boleh pakai kursi roda,’ begitu katanya.
Shafa dan saya juga suami tentu senang sekali. Kami mulai menyusun banyak rencana. Saya membayangkan alangkah senangnya, Shafa berarti sudah bisa BAB dan BAK di kloset lagi, tidak seperti selama ini yang harus dilakukan di pispot di atas tempat tidur. Sementara Shafa sudah minta masuk sekolah dengan kursi rodanya. Setiap teman yang bertanya kabar Shafa, selalu saya jawab dengan riang gembira. Sebentar lagi dia bisa pakai kursi roda! Sebentar lagi Shafa bisa masuk sekolah! Bahkan bu gurunya pun telah saya datangi secara khusus untuk mengabarkan ini. Gembira. Bahagia.
Tapi semua harapan saya rasanya sirna dan jadi sia-sia.
Teori pak dokter yang telah memberi saya harapan indah, ternyata tidak terbukti sama sekali. Hari Jum’at 13 Januari 2006.
Ini jadwal Shafa merontgent kakinya. Kami berangkat dengan hati senang. Shafa tau, dia akan lebih bebas bergerak sebentar lagi. Dia akan bisa memulai beberapa aktivitasnya lagi, meskipun dengan bantuan kursi roda. Tapi cukup membahagiakan dibanding berbaring terus-terusan di kamar, bukan?
Sayang, semuanya jadi buyar.
Perawat yang merontgent Shafa yang mula-mula mengabarkan berita itu.
"Bu, kenapa ini?" ia menunjuk hasil rongentnya.
"Ini kok tulangnya tidak menyambung? Ini masih bergeser, bu... belum ada perubahan dari kondisi semula. Apa yang kemarin dilakukan dokternya?"
Sungguh saya bingung mendengar pertanyaan itu..
"Menurut dokter, Shafa di tarik untuk meluruskan posisi tulangnya yang bergeser, kemudian dipasak di 3 titik, lalu di gips, pak. Itu katanya. Apa ada yang salah?"
"Tidak, bu, tidak ada yang yang salah dari prosedur tersebut, tapi ternyata tulang Shafa masih salah posisi, kalaupun terjadi kalsifikasi yang akhirnya akan menyambung tulangnya secara alami, Shafa bisa cacat seumur hidup, kakinya bisa bengkok, dan pendek sebelah... Kasihan, bu... dia kan perempuan..." itu kata-kata sang perawat, juga 3 orang dokter lain yang kami datangi setelah itu.
Persis, mereka berkata sama.
Apaaaa?????????
Shafa akan cacat???? Shafaku? Bidadariku yang cantik dan lincah itu???
Tidaaaaaaaaaakkkkkkkk!!!! Dunia saya serasa runtuh. Gelap.
"Solusinya apa, dokter?"
"Operasi, bu... kali ini agak lama pembiusannya, karena sepertinya sudah tumbuh daging di sela-sela patahan tulangnya, jadi ini mesti dibersihkan dulu, lalu tulang Shafa akan dibor dan dipasangi 2 buah mur untuk menyatukan tulangnya. Selesai operasipun, Shafa tetap harus mengenakan gipsnya agar posisi tulangnya tidak bergeser. Setelah 6 bulan, atau maksimal 1 tahun lagi, Shafa dioperasi lagi untuk mengeluarkan mur tersebut, setelah tulangnya betul-betul menyatu."
Operasi???
Masuk ruang bedah lagiii???
Dibius lagiiii????
Masih segar rasanya ingatan saya tentang kamar bedah yang harus Shafa masuki 3 minggu lalu. Masih terasa pilunya hati saya saat melihat Shafa mendadak terkulai tak sadarkan diri ketika suntikan bius memasuki pembuluh darahnya.
Sekarang Shafa harus masuk ruang operasi lagi???
Bahkan dengan masa pembiusan yang lebih lama????
Bagaimana dengan asmanya? Bukankah dia tidak bisa dibius terlalu lama, karena dia juga mengidap asma???
Bagaimana ini???
Membayangkan itu saja rasanya saya tidak sanggup, lalu dokter orthopedinya melanjutkan,
"resiko terburuk operasi ini adalah... bla... bla... bla..."
Saya menangis tersedu-sedu di depan meja dokter itu... Saya benar-benar merasa tidak berdaya...
Tuhan... saya sangat kecil... saya ini tidak ada apa-apanya. Saya ini benar-benar tidak punya kemampuan apa-apa. Bahkan untuk melindungi buah hati sayapun saya tidak bisa...
Hilang rasanya seluruh sendi tubuh saya, ingin rasanya saya melesak ke perut bumi. Sungguh, alangkah tidak ada dayanya saya. Sungguh hanya Allah yang maha kuasa. Ya Allah.... ampuni saya...
Mungkin selama ini saya begitu PD dan takabur. Saya belum pernah merasa mendapat masalah yang tidak mampu saya selesaikan. Hidup saya memang tidak mulus dan mudah, tapi selama ini rasanya hampir setiap rintangan telah mampu saya lewati. Saya hampir memiliki semua yang saya impikan.
Mungkin saya jadi takabur karenanya.
Mungkin saya jadi lupa, bahwa semua itu bukan karena saya. Tapi karena izin Allah semata. Dan kini, saya tengah diingatkan. Bahwa saya ini bukan apa-apa. Bahwa saya ini sangat kecil dan tidak punya kuasa.
Ya Allah, ampunkan hamba... Hamba benar-benar sadar akan kuasaMu....
Jika Kau berkenan, tolonglah berikan segera kesembuhan bagi buah hati hamba...
Hamba tidak mampu ya Allah, hanya Engkau yang berkuasa memberikan itu semua...
Tolonglah hamba ya Tuhan...
Tolonglah hamba...
PS:
Dengan setulus hati, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas perhatian dan dukungan teman-teman semua... Sahabat-sahabat tercintaku di Boulevard, Kim, Lola, Mpi, Hasan, Ringgas, Misbah, Enda, Yandhrie, Zaki dkk, juga teman-teman yang mengunjungi site ini, Sita, May, Riga, Rini... Dukungan semangat dari kalian sungguh sangat berarti bagi kami...
Insya Allah, apabila tidak ada halangan Shafa akan dioperasi pada hari Rabu, tanggal 18 Desember 2006, mulai masuk ke RSPB hari selasa Siang, untuk pemeriksaan pra operasi.
Kami mohon doa dari teman-teman semua, agar operasi Shafa dapat berjalan lancar, dan Shafa dapat disembuhkan seperti sedia kala... Amin..
Saturday, January 14, 2006
Kita ini bukan apa-apa
Sunday, December 25, 2005
Untung Tak Dapat Diraih, Malang Tak Dapat Ditolak
"Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak..."
Peribahasa yang satu itu dulu tidak punya arti yang khusus buatku. Padahal sejak jaman aku SD (emmmhhh....24 tahun yang lalu, kali, yaaa... uhuk... lebih lama dari umur Sita :P) aku sudah hapal dan paham betul artinya. Tapi baru kemarin, tepatnya 24 Desember 2005 (lagi-lagi kok pas ultahnya Sita), aku baru merasakan langsung maksud dari peribahasa itu.
Shafa kecilku, sudah sejak sebulan yang lalu selalu menanti-nantikan saat itu. Hari kunjungan kelasnya, kelas B3 TK Islam Istiqomah Balikpapan, ke panti asuhan. Jauh-jauh hari dia sudah menyiapkan hadiah yang ingin dia bagikan buat teman-temannya yang kurang beruntung di sana. Berkali-kali juga dia mengingatkanku, " Ibu, harus siapkan sumbangan ya... uang yang banyaaak... kata bu guru, teman-teman di panti harus kita bantu supaya bisa sekolah seperti Shafa dan teman-teman..." Berkali-kali juga dia berceloteh, kalau sampai di panti nanti dia akan bernyanyi untuk menghibur teman-temannya di sana. Bahkan dia sudah menyiapkan sebuah dongeng dan akan dia ceritakan di panti nanti (pssst... Shafa kan baru jadi juara lomba dongeng anak-anak "Aku dan Kau" di Balikpapan Center tiga minggu yang lalu, lhooo...).
Tiap hari dia bertanya "Berapa hari lagi, bu acara kunjungannya? Shafa sudah tidak sabar..."
Akhirnya.... hari kunjungan itu tiba juga...
Tidak seperti biasanya, kali ini gadis kecilku bersikap sangat manis...
Acara bangun dan makan pagi yang biasanya jadi acara perang kecil antara kami, hari ini berubah jadi lancar dan nyaman. Gadis kecilku dengan patuh dan bersemangat menjalani kewajiban paginya. Mata beningnya berkilat-kilat gembira. "Hari ini aku ke panti...." celotehnya.
Kami berangkat ke sekolah diiringi senandung gembiranya...
Di mobil kulirik wajah polosnya yang begitu gembira... "Ah... kamu memang bidadari ibu, sayang..."
Tapii..
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak...
Peribahasa yang sejak dulu sudah kuhapal dan pahami betul artinya... ternyata menimpa putri kecilku...
Belum sepuluh menit kami tiba di sekolah... Aku dan suamiku masih menikmati sarapan do-gado si Beybi di parkiran sekolah, Mbak Dewi temanku tergopoh-gopoh memanggilku, "Mbak, Shafa jatuh..." Aku tidak berpikir panjang lagi, langsung melesat ke UKS.
Shafaku... buah hatiku tergolek sambil berteriak-teriak kesakitan bu Lisda dan bu Siti, guru kelasnya tampak cemas dan gugup sambil menenangkan jeritannya. 'Ada apa denganmu, sayang...???'
"Shafa terjatuh dari mainan, bu... mainan panjat-panjatan itu, kami mohon maaf, bu..." mereka menjelaskan padaku. Aku tahu, mereka panik dan menyesal. Terbayang olehku mainan pajat-panjatan yang dimaksud... tingginya sekitar 2.5 - 3 meteran... dan putri kecilku terhempas dari sana??? Ya Allah...
"Ini musibah, kan bu, tidak apa-apa, saya tahu, ini di luar kuasa kita semua... sekarang Shafa kami bawa ke RS Pertamina saja...." Saat itu yang terpikir olehku adalah kata RONTGENT!! meskipun hati kecilku berharap, semoga cuma keseleo atau salah urat... Tapi sungguh, hatiku ciut melihat dia menunjuk tulang keringnya yang tampak bengkak. Anakku sayang... tabah ya.... kita minta tolong dokter ya.... Wajah suamiku terlihat tegang... Kami saling membisu...
RONTGENT!! kata itu juga yang diucapkan dokter UGD Pertamina. Diiringi jerit kesakitan Shafa, kami berdua harus menerima kenyataan pahit itu. Tulang kering Shafa patah 3 bagian. Foto Rontgentnya jelas sekali menggambarkan itu semua. Belum selesai terkejutku, dokter memberikan instruksi lagi. 'Shafa puasa sejak sekarang (jam 08.00 WITA) karena jam 14.00 WITA nanti akan dioperasi...'
'Ah anakku... kenapa ini??? mana tawa dan senandung ceriamu tadi... bagaimana dengan rencana kita berkunjung ke panti, sayang...?'
'Operasi??? aduh... kenapa itu mesti terjadiii??? Shafa kecilku mesti dioperasi???' kalau boleh aku bertukar peran, biar aku saja, yang sakit... aku saja yang patah... aku saja yang dioperasi... Ya Allah, tolong kuatkan kami.... kuatkan Shafaku.... sembuhkanlah dia...'
Kalau tidak mengingat bahwa aku harus menguatkan Shafa, ingin aku juga menangis dan meraung-raung... 'Kenapa kakiku remuk begitu, sayang...?? Kenapa bukan ibu saja, yang remuk... Shafa masih terlalu kecil untuk kesakitan sehebat itu...' Tiap Shafa mengerang... aku harus buru-buru menyusut sudut mataku yang berair.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak...
Shafaku adalah gadis kecil yang sangat lincah.
Umur 11 bulan, dia sudah bisa berjalan sendiri. Dia sangat pemberani. Ramah dan tidak pernah takut tampil di muka umum. Deretan piala prestasinya berjejer di ruang keluarga rumah kami. Juara lomba baca puisi, juara lomba menggambar, juara mendongeng... telah diraihnya sejak usia 4 tahun... Kali ini dia sedang asyik-asyiknya memulai les bahasa Inggrisnya di EF. 'Shafa mau sekolah SD-nya di International School, ya ibu... makanya Shafa rajin belajar bahasa Inggris mulai sekarang....' masih terngiang pintanya beberapa hari yang lalu.
Anakku sayang, kebanggaanku....
Kini ia tergolek lemah dengan gips di kakinya. Mulai dari pertengahan paha sampai ujung telapak kaki.
Aku tahu, ini sangat berat untuk dia. Beberapa bulan di masa kanak-kanaknya yang ceria dan sangat berharga, harus dia habiskan di tempat tidur. Aku tau, ia sangat terpukul. Tapi mungkin aku lebih terpukul darinya. Aku, ibunya. Wanita yang pernah mengandungnya, melahirkan dan mendampingi detik demi detik perkembangannya. Kini aku harus ikhlas dan pasrah melihat buah hatiku tergolek di tempat tidur, tidak lagi bisa melompat-lompat, berlari-lari dan berenang di RABC seperti biasanya..... Aku remuk. Aku luka.
Ya Tuhan, aku tahu, ini cobaan darimu. Aku ikhlas, menerima semua ini.
Tapi jika Kau berkenan, tolong sembuhkan buah hatiku, ya Tuhan...
Tolong jangan biarkan ia menderita terlalu lama...
:,(
Thursday, December 22, 2005
BUNDA
--------------
Disadur dari lagu 'Bunda'-nya Melly.
Untuk semua BUNDA, di seluruh dunia.
Selamat Hari Ibu.
Wednesday, December 21, 2005
Hari ini
Hari ini, semua begitu indah....
Akhirnya setelah bertahun-tahun merasa sendirian di tengah keramaian, aku baru menemukan sesuatu yang membuatku bisa tersenyum bahagia...
A NEW Partner in crime!!! hehehe...
Nggak... nggak semenyeramkan itu.
Yang jelas, hari ini aku bahagia, karena ternyata aku sekarang punya sekelompok teman-teman baru, yang asyik... yang gilaaa... yang full of energy...
Benar-benar membuat aku seperti benostalgia ke jaman baheula... jaman masih bisa berBoulevard Ria, bersama Lola, Atis, Cici dan Kim (psssst.... maaf, kenangan akan kalian nggak pernah bisa tergantikan...)
Sungguh, 6.5 tahun aku merasa kreativitasku nggak punya penyaluran. Seperti aliran air yang di sumbat. sehingga terkadah muncrat nggak puguh... dan malah membasahi yang enggak perlu... bahkan nggak boleh basah.... (maafkan daku, honey, maafkan ibu, sayang...)
Teman-teman baruku, yang mungkin nggak akan membaca apa yang kutulis saat ini, tapi aku yakin mereka tau, bahwa aku bangga pada mereka...
Yang paling membuatku terharu... aku baru sadar, bahwa selama ini, aku nggak sendirian... aku bukanlah satu-satunya keran yang tersumbat dan butuh penyaluran... Ternyata banyak 'aku-aku' lain yang sama bingungnya seperti aku... :))
Alangkah beruntungnya ketika aku menyadari bahwa ternyata kini aku sudah menemukan penyaluran itu...
Aku cuma berharap, semoga kini aku dapat mengalir seperti dulu, kalau bisa, aku ingin mengaliri tempat-tempat gersang, yang memang membutuhkan aku... Betapa bahagianya.... bila bisa melihat bunga-bunga yang bersemi di atas lahan gersang yang bisa kusirami...
Buat suamiku tercinta, terimakasih atas segala pengertianmu... Kamu membuat aku tak henti-hentinya bersyukur... dan berterimakasih pada Allah... I Love You, So much! More than I can say!!!
Buat Shafa dan Qika, bidadari-bidadari hidupku... Ibu Love You, darling...!!!
Buat geng baruku... Diana, Yuli, Amy kuadrat, Atie, Lina, Hani, Annet, Rani, Lia...! We are a good team! Aren't we??? :) Kalian semua supermom! SELAMAT HARI IBU, yah... hehehe...
Buat mbak Tuti dan Koalisi Perempuan Balikpapan... Siaaaapppp graaaakkkk!!!! Siap menjadi bagian dari kalian... Semoga bisa berguna...

