Monday, June 9, 2008
Hari ini ibu belajar darimu, sayang...
Tuesday, May 20, 2008
Beberapa hal mengenai Radang Tenggorokan
Anda pernah kena radang tenggorokan?
Faringitis (Radang Tenggorokan) |
| DEFINISI |
Faringitis adalah suatu peradangan pada tenggorokan (faring). |
| PENYEBAB |
Faringitis bisa disebabkan oleh virus maupun bakteri. |
| GEJALA |
Baik pada infeksi virus maupun bakteri, gejalanya sama yaitu nyeri tenggorokan dan nyeri menelan.
|
| DIAGNOSA |
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. |
| PENGOBATAN |
Untuk mengurangi nyeri tenggorokan diberikan obat pereda nyeri (analgetik), obat hisap atau berkumur dengan larutan garam hangat. |
Tuesday, April 1, 2008
Kok Nggak kompak????
Hari ini entah kenapa terjadi ketidak kompakan antara hasrat hati dan kondisi tubuh...
Banyak rencana yang sudah dibuat sejak kemarin, sepertinya terpaksa ditunda...
Kepala kok rasanya berat, yaaaa... sedikit berputar, lagi...
Sepertinya udara Miri yang sedang super duper panas cukup menyumbang ketidaknyamanan kondisi saya hari ini...
Hmmm....
Sebetulnya saya sudah berencana mau buat buku perpisahan (Leaving Book) untuk Mahek, kawan sekelas Shafa yang mau pindah ke Prancis minggu depan.
Kebetulan, saya memang kebagian jadi sukarelawan tukang buat buku beginian di kelas Shafa, berhubung sekolah Shafa yang terdiri dari anak-anak yang ortunya mobile banget, alias sering berpindah-pindah, jadi nyaris tiap bulan atau minimal dalam dua bulan, selalu saja ada anak yang datang dan pergi... maka diperlukan seorang ibu yang rela rutin membuat buku perpisahan seperti ini...
"Leaving Book" ini ceritanya buat kenang-kenangan sang anak, agar dia selalu teringat, kalau dia pernah berada di kelas ini, bersama teman-temannya... Sebenarnya tugas ini mudah aja, sih... dan sangat mengasyikkan, karena saya memang hoby banget bikin yang beginian...
Apalagi, ini sudah proyek yang ke 5 buat saya, jadi sudah banyak contoh dari file-file sebelumnya, tinggal ditambah-tambah atau diedit-edit sesuai kebutuhan...
Seperti foto-foto yang tentunya sudah berubah (karena tiap ada yang pindah atau datang, maka anggota kelas otomatis juga sudah berubah), lalu saya juga perlu mengumpulkan dan menyusun 'Leaving Pages' alias lembar perpisahan dari tiap anak serta sang wali kelas, buat kenang-kenangan si anak yang mau pergi... hmmm...
Buatin puisi sedikit, tambahin dekorasi dllsb...
Banyak ide sudah berkecamuk di kepala...
Saya memang selalu ingin membuat setiap buku menjadi kenangan yang tidak terlupakan buat anak yang menerimanya...
Apalagi Mahek adalah sahabat Shafa dan ibunya Mahek adalah Ruby, yang juga sahabat saya...
Komplit deh... sudah kebayang mau bikin seperti apa...
Tapiii... ini kepala kenapa nggak kompak????? Kok malah jadi lieur gini yaaa.... huhuhuhu...
Duuuh... apa mendingan tidur dulu kali yaaa.... ????? dengan asumsi ketika bangun nanti udah lebih segeran...
Hmmmm.... gak tau deeeeh...
Tuesday, January 15, 2008
Kisah dari Negeri Jiran (1)
Hampir dua tahun tinggal di negeri jiran, apalagi dalam kondisi perang dingin tidak resmi antar kedua negara, sejujurnya kadang menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi saya.
Apalagi, saya tinggal di sebuah kota kecil yang bukan tujuan wisata, yang otomatis relatif jarang menerima kedatangan wisatawan, membuat penduduk lokal relatif jarang berinteraksi dengan orang luar. Jangan ditanya soal keramah-tamahan, yang namanya sopan santunpun sangat sulit ditemukan di sini.
Beberapa kali, di awal-awal kedatangan saya di sini, sampai merinding-rinding rasanya ketika berbicara dengan penduduk lokal (yang kurang terpelajar, tentunya). Bayangkan, ketika saya datang ke sebuah supermarket (yang kebetulan lokasinya paling dekat dengan rumah), sang pelayan supermarket menjawab pertanyaan saya tentang letak suatu barang dengan menunjuk menggunakan 'KAKI'!
Merinding saya menahan tersinggung, tapi saya sadar, saya berada di negeri asing, biar bentuk wajah kita nggak jauh beda, adat istiadat belum tentu sama.
Bukankah ada pepatah 'Lain Lubuk Lain Ikannya' :-)
Semakin hari, awalnya saya semakin terkaget-kaget.
Maklum bahasa lokal yang mirip tapi beda dengan bahasa ibu saya (alias Indonesia) seringkali membuat beberapa kesalahpahaman. Sebagai contoh, dalam bahasa Indonesia, kata 'kamu' meskipun semua semua orang paham artinya, tapi relatif jarang digunakan kepada orang yang kita hargai.
Bayangkan bagaimana kagetnya anda, ketika seorang kasir supermarket yang lebih muda dari anda tiba-tiba memanggil
"Hai kamu! kamu! iya, kamu! bayar di sini saja!"
Maaaakkk....! gondokknya!!!!
Selama ini, dalam bahasa Indonesia, setidaknya wanita seusia saya akan disapa secara sopan dengan sebutan 'Bu' atau 'mbak'...
Tapi di sini, ternyata tidak berlaku ucapan-ucapan penghormatan seperti itu...
Saya harus pasrah menerima kenyataan dipanggil kamu oleh supir taksi, tukang jualan buah, tukang jualan ikan... yah... lagi lagi... Lain Lubuk Lain Ikannya, Lain Padang Lain Belalang!
Satu lagi yang paling mengganggu (dan yang satu ini memang tidak termaafkan), adalah kalau saya disapa dengan pertanyaan:
"Kamu Indon, kah???" biasanya yang bertanya sekaligus memasang mimik mendelik merendahkan.
Biasanya saya akan jawab dengan ketus, "Bukan, saya bukan Indon! Saya orang INDONESIA." dengan penekanan intonasi di ujung kata NESIA. "Indon itu tidak ada! Saya tidak tau apa itu Indon!"
Jangan ditanya berapa ratus kali dalam kurun waktu ini 2 tahun ini saya disapa dengan pertanyaan itu. Tapi setelah saya analisa, para pemberi pertanyaan itu rata-rata adalah tukang jualan di pasar, tukang potong rumput, pelayan kedai nasi lemak, dll. Hmmm... dapat saya benang merahnya...
Mereka memang bukan orang-orang terpelajar! maklumlah pemahamannya agak cekak sedikit... buat apa dilawan, bikin capek hati sendiri.
Beruntung suami saya, juga kedua anak saya, yang tidak perlu mendapat pertanyaan konyol seperti itu, karena suami dan anak saya bersosialisasi di lingkungan kantor dan sekolah yang otomatis well educated, jadi orang-orangnya jelas tau, apa itu INDONESIA.
Tidak seperti saya, seorang ibu rumah tangga, yang pergaulannya mau-nggak mau, nggak akan jauh-jauh dari pasar, supermarket, tukang sayur, tukang buah tukang ayam, tukang ikan... hehehehe....
Awal-awal saya nggak habis pikir, ada apa sih dengan kata 'Indon' kenapa mereka mesti mengucapkannya dengan intonasi menghina dan mimik merendahkan???
Oho... dalam waktu beberapa saat, saya dapatkan jawabannya...
Indon ternyata identik dengan "TKI" alias pekerja Indonesia.
Apa salahnya dengan pekerja Indonesia?
Ternyata sebagian mereka (orang-orang tidak terpelajar di sini) seolah memiliki trauma akan keberadaan TKI, karena dulu (entah sekarang) banyak yang masuk secara ilegal. Dan TKI Indonesia, memang sejujurnya rela dibayar lebih murah dan berkenan ditempatkan di sektor apapun, sehingga golongan pekerja lokal yang menuntut bayaran lebih tinggi merasa tersisihkan...
Oooo... itu, toh pointnya! Ngobrol dong ah...!!! :-D
Sayangnya gara-gara itu, mereka menganggap semua orang Indonesia adalah TKI. Kebetulan, keluarga saya, termasuk 2 keluarga lainnya, bisa dibilang pioneer profesional expat dari Indonesia yang ditempatkan di sini. Jadi mereka kira kami adalah TKI, yang bisa jadi ilegal juga... hahahaha.... yaaahh.... nasib yah nasiiib... inilah bangsaku di mata mereka...
Gak jarang lhooo... saya ditanya...
"Kamu Indon, lewat Ejen (=agen-red) mana? kerja ape sini? kedai kah atau kerja rumah? kamu ada paspor ke?"
Wadooow.... maaaakk.... segitunya....
Tapi yah.... lama-lama semua menjadi biasa...
Apalagi, pelan-pelan saya tau, selahnya.
Ada kata kunci sakti yang saya temukan, untuk membuat para relasi saya (maksudnya para pasar-er, supermarketer n tukang-tukanger) itu berbalik menjadi manis kepada saya!
Apa kata kuncinya???
Tak lain dan tak bukan adalah... "JAKARTA!!!" Lhooo... kok Jakarta, sih???
Iya, karena Jakarta bagi mereka tidak identik dengan TKI, melainkan identik dengan pemain sinetron!!! yang kaya, cantik-cantik ganteng-ganteng, keren dan glamour!! hahaha...
Jadi begitu saya bilang saya dari Jakarta, mereka langsung bersikap manis... dan ujung-ujungnya saya dititipi pesan...
"Bila kamu nak balek Jakarta? Boleh titip salam buat Agnes Monica?"
atau pernah juga..
"Kamu benar-benar orang Jakarta?? Oh... pantas tadi saya dengar kamu cakap macam Malin Kundang!" *sambil menatap kagum* "Kamu benar-benar Malin Kundang!!!"
Buset daaah... Malin Kundang! emangnya gue anak durhaka!!!??? hahaha ternyata, saudara-saudara, cakap macam Malin Kundang itu maksudnya ngomong pake kata 'ELU - GUE' kayak orang-orang di sinetron... hehehe kebetulan ybs baru mencuri dengar obrolan saya di telepon dengan seorang teman... yang memang menggunakan istilah istilah gaul Jakarta yang populer di sinetron itu.
Hahahahaha.... *gubraaakkk...*
Yang paling sering, malah saya dituduh...
Penuduh : "Kamu orang Jakarta? eng... Kamu yang suka main sinetron itu ya... ngg...." *sambil tersenyum senyum kagum*
Saya : "Ha??? Sinetron? Sinetron apaan??? Siapa?" *bengong abis*
Penuduh : "Ituuu... sinetron... 'DIA'... kamu Lulu Tobing, kan???"
Bwahahahahahaha....
Suami saya dooong langsung ganti nyengir mengejek... "Deu... Lulu Tobing nih yeee...."
Wakakak... sirik kali ya dia... hahaha...
Moral of the story : Saya orang Jakarta, bang... bukan Indon...
Monday, July 23, 2007
Gimana Rasanya Kalau Kita Terpaksa Menghentikan Hobby????
Haaa... judulnya panjang amat yeee...??????????
Soalnya memang bingung, mencari judul yang bisa menggambarkan rintihan hatiku saat ini... *bukan hiperbola*
Coba bayangkan, misalkan anda yang punya hobi menyanyi, tiba-tiba karena satu dan lain hal, anda tidak bisa menyanyi... hmmm.. gimana rasanya? atau, anda yang hobby berolah raga, tiba-tiba harus berhenti melakukan rutinitas olahraga yang digemari tersebut. Atau yang lebih mudah lagi, anda yang udah jadi MP addict, yang sehari nggak buka MP rasanya keilangan, trus beneran nggak bisa lagi buka-buka MP, gimana rasanya?? Pasti dong ada rasa kehilangan, atau mungkin sedikit tersiksa...
Dan itulah yang saat ini saya rasakan.
Saya punya hobby malu-maluin sebenernya... tapi namanya mau curhat, mosok ditutup-tutupi, ya... ya udah... blarrr buka-bukaan deh... sekalian... hehehe
Hobby saya adalah.... Mencoba Resep Masakan Baru, kemudian... MEMAKANNYA!
Sebenarnya, hobby yang pertama, tidak termasuk kategori malu-maluin ya...
Hobby pertama ini sebetulnya sudah saya tekuni sejak SD dulu. Saya suka lihat-lihat buku resep punya mama lalu coba-coba buat sendiri ketika mama pergi kerja. hehehe... saya inget, waktu SD tuh saya pernah bikin kue soes, cendol, puding busa, asem-asem tahu, dll sendirian tanpa bantuan siapapun, lho... Hasilnya lumayan, jarang gagal, kok... biarpun mungkin nggak enak-enak amat... (anak SD gitu lhooo)
Cuman seiring berjalannya waktu, kesibukan dan tanggung jawab saya bertambah, maka hobby ini sempat saya tinggalkan... sampai kemudian muncul lagi di masa-masa kuliah, di mana seringkali beberapa teman kuliah saya jadikan kelinci percobaan buat mencicipi kue baru buatan saya (karena saya nggak berminat untuk mencicipi masakan saya sendiri... gak tau deh... rasanya kenyang aja setelah selesai memasak...). Banyak yang berhasil ada juga yang gagal bin malu-maluin (hiks! tragedi cake menjadi batu (seperti dongeng malin kundang aja, ya... menjadi batu!), nanti lah kapan-kapan saya posting kisahnya yang mengharukan eh.. memalukan).
Kemudian di awal-awal pernikahan, saya pun sekali lagi terpaksa menunda hobby tersebut, karena kesibukan mengurus bayi yang heboh dan sering tanpa bantuan asisten...
Tapi jangan dikira, setiap bulan koleksi buku resep masakan saya nambah terus... dalam hati sih saya bertekad, next time, pasti saya coba... hehehe
Barulah kira-kira tiga - empat tahun terakhir, saya mulai lagi kecipak kecibung di dapur, setelah saya punya asisten yang bisa cukup diandalkan buat njagain anak-anak... (tapi kalo lebaran, biar gak ada asisten, tetep lhoooo masak heboh... hahaha.... itu bukan sekedar hobby, soalnya, udah seperti kewajiban moral... hehehe)
Makin ke sini, anak-anak makin besar...
Mereka sudah sekolah semua... dan saya punya waktu cukup banyak buat terjun ke kancah perdapuran.
Apalagi dunia masak memasak semakin menantang dan mengasyikkan, dengan menjamurnya blog-blog resep yang memajang gambar-gambar makanan yang menggugah selera (dan meneteskan liur... ih jorok!), terus banyak juga milis-milis yang membahas berbagai jenis masakan yang sungguh asing di telinga saya, tapi menantang untuk dicoba.
Saya mulai deh petualangan baru... berburu resep di web, kemudian mencoba-nya di rumah.
Tapi lucunya sekarang, selesai memasak, saya jadi penasaran dong pengen nyicip rasanya.... wong namanya aja baru denger... masak nggak dicobain... akhirnya sekali dua kali... lama-lama jadi kebiasaan.
Bertambahlah hobby saya satu lagi MAKAN!
OMG!
Dari sini lah penderitaan itu bermula....
Body saya yang memang gampang melar ini.... akhirnya bertambah melar dari hari ke hari...
Sekarang, BMI (body Mass Index) saya sudah berada tipis di bawah batas gemuk Hiks! ( tapi belum obes, siy).
Cuman, kalo bercermin... duh... udah nggak sedap dipandang gitu lho...
Baju-baju udah mulai nggak nyaman dipakai...
Waaah....
Mana minggu depan, saya mau pulang kampung, adik saya mau merit, it's mean saya mesti berkebaya ria. Waduuuh... membayangkan body saya yang sudah menyerupai elipsoid putar ini, mana mungkin saya bisa keren dalam balutan kebaya... alamak!
Dengan berat hati akhirnya... beberapa waktu terakhir ini, saya menyatakan bye-bye kepada kedua hobby di atas...
Cukuplah kecipak kecibung di dapur buat bikin sayur asem dan ayam gorengnya bapaknya anak-anak... nggak usah coba-coba bikin cemilan yang aneh-aneh... yang berbutter-butter, yang bergula-gula, berlemak-lemak, yang sudaaap -suedaaap itu... yang bikin mata ngiler, liur ngeces kalo lihat fotonya di blog orang... yang bikin penasaran kalo baca discuss-nya temen-temen di milis...
Cukup. Hentikan sesaat.
Entah sampai kapan...
Setidaknya sampai saya bisa kembali ke kebiasaan saya dulu.
Hanya memasak. Tidak memakan...
Oh....
Semoga bisa....
Wednesday, December 21, 2005
Hari ini
Hari ini, semua begitu indah....
Akhirnya setelah bertahun-tahun merasa sendirian di tengah keramaian, aku baru menemukan sesuatu yang membuatku bisa tersenyum bahagia...
A NEW Partner in crime!!! hehehe...
Nggak... nggak semenyeramkan itu.
Yang jelas, hari ini aku bahagia, karena ternyata aku sekarang punya sekelompok teman-teman baru, yang asyik... yang gilaaa... yang full of energy...
Benar-benar membuat aku seperti benostalgia ke jaman baheula... jaman masih bisa berBoulevard Ria, bersama Lola, Atis, Cici dan Kim (psssst.... maaf, kenangan akan kalian nggak pernah bisa tergantikan...)
Sungguh, 6.5 tahun aku merasa kreativitasku nggak punya penyaluran. Seperti aliran air yang di sumbat. sehingga terkadah muncrat nggak puguh... dan malah membasahi yang enggak perlu... bahkan nggak boleh basah.... (maafkan daku, honey, maafkan ibu, sayang...)
Teman-teman baruku, yang mungkin nggak akan membaca apa yang kutulis saat ini, tapi aku yakin mereka tau, bahwa aku bangga pada mereka...
Yang paling membuatku terharu... aku baru sadar, bahwa selama ini, aku nggak sendirian... aku bukanlah satu-satunya keran yang tersumbat dan butuh penyaluran... Ternyata banyak 'aku-aku' lain yang sama bingungnya seperti aku... :))
Alangkah beruntungnya ketika aku menyadari bahwa ternyata kini aku sudah menemukan penyaluran itu...
Aku cuma berharap, semoga kini aku dapat mengalir seperti dulu, kalau bisa, aku ingin mengaliri tempat-tempat gersang, yang memang membutuhkan aku... Betapa bahagianya.... bila bisa melihat bunga-bunga yang bersemi di atas lahan gersang yang bisa kusirami...
Buat suamiku tercinta, terimakasih atas segala pengertianmu... Kamu membuat aku tak henti-hentinya bersyukur... dan berterimakasih pada Allah... I Love You, So much! More than I can say!!!
Buat Shafa dan Qika, bidadari-bidadari hidupku... Ibu Love You, darling...!!!
Buat geng baruku... Diana, Yuli, Amy kuadrat, Atie, Lina, Hani, Annet, Rani, Lia...! We are a good team! Aren't we??? :) Kalian semua supermom! SELAMAT HARI IBU, yah... hehehe...
Buat mbak Tuti dan Koalisi Perempuan Balikpapan... Siaaaapppp graaaakkkk!!!! Siap menjadi bagian dari kalian... Semoga bisa berguna...

